Pagi hari seperti biasanya, di ruang makan keluarga Pak Hartoyo. Seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut terurai sebahu dan berkacamata duduk termenung menatap sarapan paginya yang terlihat lezat itu namun ia tidak nafsu untuk memakanya. Si gadis berpakaian seragam putih abu-abu sedari tadi hanya memainkan sendok garpu yang iya pegang.
“ Nita sayang, dimakan dong sarapannya jangan dimain-mainin gitu” sahut ibundanya yang sedari tadi memperhatikan anak tersayangnya. Nita adalah nama gadis itu. Seorang anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarga Pak Hartoyo. Nita mempunyai 3 kakak cowok yang semuanya sudah memiliki pekerjaan tetap.
“Nita......” panggil ibundanya dengan penuh kelembutan. Namun nita tetap tidak menggubrisnya. Semenjak kejadian semalam sampai saat ini dia sangat membenci ibundanya. Baru kali ini Nita memiliki perasaan seperti itu, sebelum-sebelumnya Nita tak pernah memiliki perasaan itu kepada bunda yang sangat amat ia cintai.
“Tin....Tin.....” terdengar suara klakson motor dari halaman depan rumah Pak Hartoyo.
Sahabat Nita yaitu Tria menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama.
Nita yang mendengar suara klakson motor, langsung meninggalkan meja makan dan menuju halaman rumah. Ibundanya yang sedari tadi memanggilnya tetap tidak digubris oleh Nita. Sedangkan ayahnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak bungsunya itu.
Di halaman depan rumah, “Pagi amat loe datengnya? “ Tanya Nita
“Iya dong.., kan mau jadi anak rajin” Jawab Tria dengan senyum sok manis.
Nita hanya tersenyum heran kepada Tria.
“Ya dah berangkat yok” ajak Nita
“Sekarang?” Tanya Tria yang sekarang terheran-heran juga.
“Iya sekarang, mau kapan? Tahun depan?”
“Ya bukanya gitu, gue kan belum pamitan sama ibu loe”
“Ngapain? Udah ah berangkat” jawab Nita dengan ketus.
“iya-iya...” jawab Tria sambil menghidupkan motornya.
***
Di SMA PELITA BANGSA, Nita yang biasanya ceria dan terkadang menjahili teman sekelasnya yang tak berdosa . Kini duduk termenung sambil menari-narikan pulpen hijau yang bertuliaskan huruf Korea diselembaran kertas. Dia masih memikirkan kejadian semalam. Semalam dia bertengkar hebat dengan ke-2 orangtuanya. Sebenarnya bukan masalah besar, namun itu membuatnya amat sangat sakit hati. Semalam, Nita dan ke-2 orangtuanya membicarakan tentang kuliah Nita. Nita sangat ingin masuk fakultas Sastra Korea, namun orangtuanya menentang keras. Itulah sebabnya Nita membenci mereka.
Nita adalah gadis yang sangat menyukai negeri penghasil gingseng yaitu Korea Selatan. Dia berharap bisa ke negri tersebut dan bertemu beberapa idolanya yaitu aktor dan atlet terkenal di dunia.
“Hei Nit, gak biasanya loe kayak gini. Murung ajah, tu liat muka loe udah kayak dilipat-lipat 7 lipetan”, ledek Nindi teman sebangkunya.
“Asemlah loe, hina terus ajah gue”, protes Nita.
“Sust... jangan ganggu dia Nin. Dia lagi bete tau” jawab Tria.
“ooh... bete gara-gara semalem” jawab Nindi sambil menyikut tangan Nita. “Dah gak usah dipikirin banget, masak cuman gara-gara hal semalem, loe langsung mogok kuliah. Gak lucu banget gitu”, sambung Nindi.
Nita sudah membicarakan masalahnya kepada ke-2 sahabatnya itu semalam. Pada saat itu dia bingung harus bercerita kepada siapa, untung dia memiliki sahabat yang sangat peduli satu sama lain. Akhirnya segala unek-unek yang ia miliki, ia keluarkan semua kepada sahabat-sahabatnya. Syukur itu semua membantu Nita menjadi lebih baik. Walau kadang kesal selalu diledekin sama si Nindi, sahabat yang selalu kalau ngomong terkadang kelewat kontrol. Tapi untunglah ada si Tria yang ada penengah buat pertengkaran Nita dan Nindi.
“Sudah ah jangan bete terus-terusan Nit, terus juga loe jangan kayak gitu dihadapan orangtua loe. Enggak baik, entar jadi anak durhaka gimana? Ntar nasib loe kayak kisah Malin Kundang giman?”, sahut Nindi.
Namun perkataan Nindi membuat tambah kesal dan bete Nita.
“Iya Nit, lagian jalur lain banyak kok untuk bisa pergi ke Korea Selatan. Enggak hanya Sastra Korea” jawab Tria.
“Iya, tapi apa?” Tanya Nita dengan nada kesal.
Dan ke-2 sahabatnya pun terdiam. Mereka juga masih bingung tentang fakultas apa yang nantinya bisa pergi berkunjung ke Negara Gingseng tersebut.
***
Malam hari, di kamar tidur Nita yang dipenuhi dengan warna serba hijau. Selain dia sangat menyukai Korea Selatan, dia juga menyukai warna Hijau. Dari mulai warna tembok, tempat tidur, lemari sampai beberapa pernak pernik yang menghiasi kamar. Dan juga tidak ketinggalan beberapa poster aktor,atlit dan penyanyi dipasang di bagian samping meja belajarnya.
Nita menatap kosong buku Matematikanya itu. Dia hanya membolak-balikkan buku yang penuh dengan angka dan rumus. Malam ini, dia lagi tidak semangat belajar. Padahal esok hari ia mengikuti ujian Try Out (TO). Pikirannya hanya tertuju pada fakultas yang ia akan ambil nanti. Dan dia dengan terpaksa memutuskan untuk tidak mengambil fakultas Sastra Korea.
Dia masih memngingat betul apa yang dikatakan orang tuanya kemarin malam.
“Apa, Sastra Korea! Ayah tidak setuju. Kamu lihat tantemu itu yang dulu ketika kuliah mengambil sastra jepang. Sekarang dia menganggur, dan dia sekarang cuma jadi ibu rumah tangga saja. Apa kamu mau seperti tantemu itu. Pokoknya enggak ada sastra-sastraan...!!!”
“Nita sayang, kamu hanya terobsesi saja terhadap Korea, yah seperti kamu menyukai warna hijau. Maafin ibu ya nak gak bisa menyetujui permintain kamu kali ini”
Kata-kata itu membuat hatinya merasa sakit dan keinginan yang selama ini ia inginkan dan damba-dambakan pupus sudah dan tidak berarti.
Nita tak kuat menahan airmatanya, kemudian ia menangis untuk ke-2 kalinya.
Tiba-tiba suara ring tone Handphonehone Nita berbunyi. Alunan lagu aktor korea yang didamba-dambakan Nita itu bernama Kim Bum. Ketika itu tangisannya berhenti. Kemudia ia lihat layar Handphonenya, bertuliskan ‘Nindi panggil’. Nita mengerutkan dahinya, “tumben tu bocah nelpon”. Kemudian dia menjawab panggilan Nindi.
“Nita.., aku punya kabar bagus buat loe. Loe pasti seneng deh”, teriak Nindi dari sebrang sana.
“Berita bagus apa?”, tanya Nita dengan penasaras.
“Cerpen loe dapet juara satu...” seru Nindi gengan sangat gembira.
“Apa!! Yang bener? Loe gak bohong kan???”, tanya Nita dengan dipenuhi rasa tidak percaya.
“Gue serius! Malah beribu-ribu rius. Nih gue dah beli majalahnya. Besok gue bawa ni majalah” Jawab Nindi dengan meyakinkan Nita.
Malam itu, awalnya sanyat sepi,sunyam dan sedih bagi Nita. namun kini berubah menjadi ramai dan penuh dengan perasaan gembira. Nita tidak percaya, cerpennya menang dalam lomba menulis cerpen di majalah ‘Teen’. Awalnya dia tidak percaya diri dengan cerpen yang ia buat, namun dengan dukungan dan paksaan ke-2 sahabatnya akhirnya dia mengirimkan cerpen tersebut. Dan hasilnya, ternyata doa para sahabatnya terkabul. Cerpen mendapat juara 1. Nita memang memiliki kegemaran menulis cerita-cerita fiksi. Selain cerpen dia juga menulis novel. Sudah 2 novel yang dia buat. Namun dia tidak berani untuk mengirimkan cerita-cerita tersebut ke majalah atau penerbit. Alasanya, dia takut dibilang ceritanya biasa-biasa saja. Akan tetapi pemikiran dia berubah total dan rasa percaya dirinya pun tumbuh.
***
Semenjak kejadian itu, Nita sudah tidak memikirkan masalah tentang perihal impian pergi ke Korea. Dan dia juga hubungannya dengan orangtuanya agak membaik,tapi terkadang rasa kesal terhadap orangtua datang, jika mereka membicarakan tentang kuliah. Apalagi jika orangtuanya menyuruh mengambil fakultas kedokteran,Nita paling benci itu. Entah kenapa dia tidak suka dengan fakultas kedokteran, padahal setiap orang selalu menginginkan masuk fakultas tersebut. Dia hanya ingin menjadi penulis hebat, atau menejemen terhandal. Namun orangtua Nita kurang setuju dengan keinginannya. Nita sangat kecewa dengan orangtuanya, kenapa keinginannya selalu tidak disetujui oleh ke-2 orangtuanya. Orangtuanya selalu menyuruhnya untuk jadi dokter. Padahal nita benci itu. Karena hal itu dia putus asa, dan dia tidak ingin kuliah. Untunglah ada ke-2 sahabatnya yang selalu menemaninya setiap saat. Tria dan Nindi selalu memberi semangat dan pikiran-pikiran positif. Nita beruntung memiliki ke-2 sahabatnya. Dengan itu, dia berjuang tekat untuk memilih fakultas yang ia inginkan walau orang tua kurang setuju.
***
Beberapa bulan kemudian, akhirnya Nita lulus SMA dengan nilai yang memuaskan. Begitu juga dengan ke-2 sahabatnya. Masa-masa sulit pertama telah dia hadapi dengan kesabaran,usaha,semangat,dan tidak ketinggalan berdoa kepada Sang Maha Pencipta, serta dukungan ke-2 sahabatnya yaitu Nindi dan Tria. Namun dia taut masa sulit ke-2 dan seterusnya tidak bisa dia lewati. Salah satunya berpisah dengan para sahabatnya. Sudah 6 tahun mereka bersama. Mungkin sulit untuk berpisah.
“Takdir berkata apa, ya kita harus jalani dengan ikhlas” kata-kata sahabatnya yang bernama Tria yang selalu terlintas dipikiran Nita. sahabat yang paling berpikir dewasa dibandingkan Dia dan Nindi.
“Akhirnya kita lulus....!!”, teriak Nindi yang ketika itu berada disamping Nita.
“Nindi kalo teriak tau tempatnya dong” protes Nita kepada Nindi sambil mengusap-usp telinganya yang terasa sakit.
Nindi hanya meringis saja dengan berkata, “Ups... sorry...”
“Sudah-sudah jangan berantem terus, bosen tau gue liatin loe orang berantem cuman hal sepele”, jawab Tria sambil mengeluarkan air mata.
“Lho, kenapa loe nagis?” , tanya Nita dengan heran.
“Tria jangan nangis dong, aku juga ikut nagis nih” protes Nindi.
Kemudian Tria menghapus air matanya dan tersenyum.
“Gue Cuma gak pingin pisah dengan kalian. Buat gue, kalian adalah sahabat yang tidak ternilai harganya. Masa-masa indah,sulit,sedih telah kita hadapi bersama di SMA ini. Karena kalian hiduku menjadi lebih bermakna dan gue takt gak bisa nemuin sahabat seperti kalian” jawab Tria dengan menahan air matanya. Kalimat-kalimat itu membuat tubuh Nita merinding dan ikut meneteskan air mata.
“Gue juga sama seperti loe kok, gue juga takut enggak bisa nemuin sahabat seperti kalian. Gue takut gak bisa menghadapi masa-masa sulit tanpa adanya kalian. Buat kalian, makasih akhir-akhir tahun ini sering nolongin gue ngadapin masalah gue. Masa itu akan gue kenang baik-baik dalam memori ingatan gue.” , jawab Nita dengan mengeluarkan mata yang terus menerus keluar dari air mata.
“Gue juga....”, jawab Nindi. Kemudian memeluk Nita dan Tria dalam pelukan yang hangat dihiasi oleh tangisan yang amat mendalam. Nita benar-benar merasakan kekeluargaan yang mengalir diantara mereka.
“Tapi walaupun pisah jauh, kita tetap komunikasi ya?” tanya Nindi.
“Oke....” Jawab serentak Nita dan Tria.
“Loe abis ini jadi ngambil jurusan apa?” , tanya Tria kepada Nita.
“Gue akan ke Menejemen Bisnis” , jawab Nita.
Ke-2 sahabatnya pun terkejut sekaligus bangga.
“Katanya loe mau ngambil yang oarang tua loe senengin, kok jadi ke Menejemen Bisnis. Berarti loe ngambil IPC dong?” Tanya Nindi.
“Itu keputusan bulat gue, doain dong. Semoga masuk di jalur SNMPTN dan menjadi menejemen terhandal”,jawab Nita.
“Gue suka sama keputusan loe”, jawab Tria
“Makasih ibu dokter”, jawab Nita
Dan merekapun tertawa, kemudian Nita berkata “Semoga kita menjadi orang yang sukses. Tria jadi bu dokter yang berwibawa, Nindi jadi Apoteker terhandal dan gue jadi seorang menejemen terhandal”
“Amin......” seru mereka bertiga. Dan diakhiri oleh pelukan dengan penuh kebahagiaan dan harapan.
***
Enam tahun kemudian.............
Terdengar suara handphone berdering dari dalam tas kecil Nita. lankah Nita terhenti ketika melihat tulisan di layar handphonenya. Dan dia tidak percaya akan tulisan di layar handphone. Restaurant yang ia menejemenkan mendapat kerja sama dengan Restauran yang berada di Korea selatan yaitu Soel.
Nita sekarang bekerja di Restauran yang terbesar dan terkenal diseluruh Indonesia. Cabangnya ada di seluruh Indonesia. Restaurant yang ia naungi sekarang,akan buka di cabang Internasional. Salah satu negaranya adalah Korea Selatan.
Usaha yang slama ini ia lakukan akhirnya berbuah hasil dan harapan impian yang dulu hilang kini bersinar kembali. Nita kemudian ingat dengan ke-2 sahabatnya yang selalu berada disampingnya selama hampir 12 tahun ini, dan dia juga mengingat kata-kata sahabatnya dulu yang berbunyi
“ lagian jalur lain banyak kok untuk bisa pergi ke Korea Selatan. Enggak hanya Sastra Korea”.
Kemudian Nita menelpon ke-2 sahabatnya dan memberitahu kabar bahagia ini.
“Selamat ya sayang, akhirnya bisa ke negeri penghasil gingseng juga”, jawab tria memberi ucapan kepada Nita/
“Iya selamat ya sayangku....., tapi sayangnya gue ama tria gak bisa ikut pergi bareng kesana”, keluh Nindi.
“iya-iy,jangan sedih nanti ku belikan oleh-oleh deh”, jawab Nita.
“Terus ngasih oleh-olehnya kapan? Kita kan gak satu kota lagi”, tanya Nindi.
“Ya ile, bolot deh!! Sekarang kan tekhnologi dah canggih. Jadi ngasihnya lewat pos”,jawab Nita.
Dan mereka pun tertawa bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar